Iklans.com - Kuelus terus batangannya, Emma semakin lupa daratan, erangannya semakin menjadi-jadi.
“Auw Mas.., aduh enak Mas..! Uh..!” desahnya sambil matanya terpejam dan kocokannya di penisku semakin keras.Aku semakin nekat, kumasukkan tanganku ke dalam CD-nya. Ah.., terpegang olehku stick milik Emma yang kuperkirakan lebih kecil dari punyaku.
“Auw.. Mas gila. Mas.., aduh enak Mas..!” ia berbisik untuk melanjutkannya di kamar, aku menurut saja dan mengikutinya.
Ternyata kamarnya di sebelah kamar mandi tersebut, kamarnya berukuran 4×4 m dengan lampu tidur remang-remang dan satu tempat tidur double berukuran 2×2 m dilapisi sprei warna biru muda dari bahan satin.
Emma melepas dasternya, lalu kemudian menghampiriku dan melepas bajuku yang masih tersisa. Kami sama-sama sudah bugil, kuperhatikan dalam keremangan itu ada rasanya aku ingin tertawa juga waktu melihat tubuh Emma yang memang seksi itu, tapi lucunya kami sama-sama punya rudal, yang beda payudaraku tidak membumbung, kulitku tidak sehalus kulitnya. Aku berpikir kenapa aku tidak merasa jijik, kenapa aku tetap terangsang. Aku tidak habis pikir dengan nafsuku ini yang dapat menerima orang yang sama dengan jenisku, apa aku gay..? Tapi aku tidak perduli lagi, karena Emma sudah melumat putingku dan menjilatinya bergantian kiri dan kanan.
Kemudian disuruhnya aku telentang di tempat tidurnya, lalu ia mulai menjilati ibu jari kakiku dilanjutkan ke jari kaki yang lainnya, terus naik ke dengkul sambil lidahnya terus menempel di kulitku layaknya orang sedang mengecat dengan kuas, tapi kali ini kuasnya menggunakan lidah. Geli sekali rasanya, ada rasa sesuatu benar-benar sensasional yang susah dilukiskan oleh seribu kata. Aku hanya dapat ber ah..uh ria saja.
Setelah itu disuruhnya aku telungkup dan kembali aku dikuasnya, hanya kali ini bagian belakang dari tumit hingga bokong yang kiri dilanjutkan dengan yang kanan. Lalu ia naik ke pinggang, punggung lalu ke leher, turun lagi ke bokong. Disuruhnya aku menungging, lalu dijilatnya liang duburku, auwhh..! Hilang rasanya semua panca inderaku, semua berkumpul di liang anusku ini. Dimain-mainkannya lidahnya di sekitar anusku, lalu tangannya membuka bibir anus dan lidahnya masuk ke dalamnya. Aku tidak dapat lagi menceritakan suara apa yang kukeluarkan saat itu.
“Ma.. emm.. aduh Ma.., aku ngga kuat, aduh..!” desahku, tapi ia terus saja melumatnya.
Beberapa saat kemudian dibalikkannya tubuhku dalam posisi semula, telentang. Dilumatnya lagi tubuhku, diawali dari jari-jari tangan lanjut ke ketiak, kembali ke putingku lalu turun ke pusar. Diputar-putar lidahnya di sana dan kemudian sampailah ke inti energi, yaitu penisku.
“Agh..!” aku sedikit menjerit ketika dilumatnya dulu batangan berikut buahnya dan dilanjutkan mengulumnya.
“Agh.. Ma.. Sebentar Ma..!” kutarik ia lebih merapat sehingga rudalnya tepat di mulutku.
“Aduh.. duh.. Mas.. duh. Isep Sayang.., aduh terus Sayang..!” ia mengerang, tentu saja karena kenikmatan.
Artikel Terkait
Jadilah kami menggunakan posisi 69, saling menghisap, saling melumat, tidak ada rasa jijik sedikit pun yang kualami. Emma semakin buas dan dengan lahapnya melumat penisku, begitu juga aku giat memaju-mundurkan kemaluannya di dalam mulutku.
Kira-kira setengah jam kami saling melumat, saling menghisap dan saling menjilat. Akhirnya ia memintaku untuk memasukkannya ke dalam lubang anusnya. Dibasahinya kepala rudalku dengan ludahnya, lalu ia telentang sambil mengangkat kakinya tinggi-tinggi. Dibimbingnya kemaluanku untuk memasuki liang kenikmatannya.
“Pelan-pelan ya Mas..!” ia meminta.
Kudorong rudalku pelan-pelan, akhirnya dengan susah payah masuklah ke dalam goanya. Lanjut baca!

0 Response to "Cerita Ngentot Memek dan Anal Emma 2"
Posting Komentar