Explore Zona Dewasa

Cerita Ngentot Memek dan Anal Emma 1

Aopok.comCerita ini terjadi sekitar 1,5 tahun yang lalu, tapi merupakan awal yang mempengaruhi perilaku seks yang kujalani sampai saat ini. Waktu itu aku seorang mahasiswa semester 3 di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung. Sebenarnya aku termasuk mahasiswa yang cukup berprestasi di kampus, terbukti dengan seringnya aku diikutsertakan oleh dosen/pengajar apabila mereka akan mengadakan penelitian ilmiah. Tapi sayangnya akibat pergaulan yang kurang baik, ditambah dengan problema yang kuhadapi (saat itu kurasakan cukup berat), aku terjebak kecanduan narkotika, walaupun sebenarnya baru pada tahap kecanduan awal.


Problem yang kuhadapi ialah putusnya hubunganku dengan pacarku di desa (lebih tepatnya diputusin), dengan alasan yang aku sendiri tidak mengerti. Aku merasa tidak dihargai karena tidak mendapat alasan yang jelas, padahal hubungan kami sudah berjalan sejak kami masih SLTP. Tapi sudahlah, karena bukan itu sebenarnya yang ingin kuceritakan.

Malam itu, sepulang dari rumah seorang teman aku mengendarai sepeda motor bebekku dengan kepala sedikit berat akibat pengaruh obat yang belum terlalu turun, tapi kupaksakan juga karena besok pagi-pagi sekali aku ada janji dengan seorang dosen untuk membantunya mengumpulkan data-data yang berhasil kami kumpulkan (yang tentunya dia yang membuat pertanyaan, aku hanya membagikan kuisioner pada obyek penelitian).

Aku mengambil jalur yang biasa kulalui yang melewati Jl. Saparua (gelora) yang kalau malam banyak kaum waria yang mejeng mencari langganan. Aku tidak pernah perduli karena memang aku sama sekali tidak tertarik oleh yang palsu semacam itu. Tapi malam itu secara sadar atau tidak sadar aku berhenti ketika seorang waria melambaikan tangannya. Aku hanya berpikir seksi sekali ini orang (tentunya dalam cahaya yang remang-remang dan pengaruh obat yang masih bersisa di kepalaku).

Kupinggirkan bebekku mendekatinya. Setelah kudekati memang ternyata selain seksi juga manis dan mulus. Ia memakai baju malam (aku tidak tahu namanya) yang talinya kecil atau malah mungkin mirip baju tidur, hanya saja bahannya mungkin lebih bagus. Dadanya yang menonjol karena terdorong buah dada yang cukup besar hanya setengahnya tertutup, seolah-olah mendesak untuk segera keluar. Lengan dan kakinya tidak berotot seperti seharusnya seorang lelaki, itu terlihat karena ia memakai minidress. Kulihat wajahnya juga manis dan tidak kaku. Lama aku bertanya dalam hati, ini cewek beneran kali.

Tiba-tiba, “Mau kemana Mas..?” ia bertanya yang membuat buyar pertanyaan-pertanyaan di kepalaku.
“Mau pulang.” aku menjawab asal-asalan.
“Kok pulang sih.., kan belum malem. Ngobrol dulu yuk..!” ia bertanya lagi (memang suaranya sedikit lebih ngebas dari suara wanita, atau mungkin seperti suara wanita perokok).
“Ini kan lagi ngobrol.” aku merespon lagi.
“Ngobrol di sana aja, sepi.. yuk..!”
“Kemana..?”
“Tuh, ke samping gelora.”

Akhirnya aku seperti kerbau yang dicocokin hidungnya, menurut saja. Ku-start motor dan ia langsung duduk diboncengan sambil tangannya, ya ampun.., ini tangan bukan pegang samping jok motor atau mungkin pinggang, eh malah menempel di antara kedua pahaku, tepatnya rudalku. Aku diam saja, pura-pura tidak tahu. Motor kujalankan dan tangannya malah menjadi meremas barangku. Aku sedikit grogi juga, tapi yang jelas burungku mulai terusik karena terasa sudah mulai mengeras.

Akhirnya kami sampai di samping gedung olahraga yang memang gelap dan sunyi sekali. Kalau diperhatikan lebih teliti, maka akan terlihat bayangan orang-orang yang tidak jelas sedang melakukan apa, yang pasti mereka sedang melakukan adegan ngeseks. Aduh gimana ini sebenarnya, aku ingin menolak dan membalikkan motor terus pulang, tapi aku seperti tidak berdaya dan terus saja mengikuti perintahnya. Akhirnya ia menyuruhku untuk berhenti.

“Motornya diparkir di sini aja..!”
“Aman ngga..?” (aku sedikit was-was).
“Aman dong..! Tuh.., yang lain juga diparkir di situ..!”

Akhirnya kustandarkan motor dan berjalan mengikutinya. Kami sampai tepat di teras samping gedung. Di sana ada tumpukan peti, tepatnya stage level. Kami duduk di situ dan mulai ngobrol kesana kemari. Baru kutahu ternyata namanya Emma. Aku tidak tahu kalau siang apa namanya jadi Eman. Aku sudah tidak perduli lagi. Baca lanjut!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cerita Ngentot Memek dan Anal Emma 1"

Posting Komentar